Blog berisikan MP3 KESENIAN JAWA KLASIK khususnya Klenengan produksi Lokananta. Seluruh file klenengan, campursari, dagelan Basiyo merupakan hasil ripping dari kaset koleksi pribadi, wayang kulit sebagian besar berasal dari blog Wayang Prabu, sisanya dari koleksi pribadi. Mohon maaf bila masih ada file yang belum bisa didownload, mangga dipun telusuri piyambak. Matur nuwun.
Google
 

Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab

>> Saturday, December 29, 2012

Bagi penggemar wayang, sudah pasti cukup kenal dengan lakon ini. Abimanyu Ranjab merupakan salah satu rangkaian dari perang saudara Bharatayudha yang sangat populer itu. Terus terang mengikuti cerita ini rasanya trenyuh dimana Abimanyu putra Arjuna yang digadang-gadang untuk kelak menjadi calon ratu ternyata harus gugur mengenaskan dalam usia yang masih sangat muda ditangan para uwanya sendiri.

Namun seperti biasanya, bukan Ki Hadi Sugiti kalo tidak bisa membawakan lakon apapun dengan gayanya yang khas, segar, cerdas dan tetep ngga lepas dari banyolan.
Monggo kula aturi midangetaken sinambi leyeh-leyeh.

Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 1A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 1B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 2A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 2B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 3A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 3B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 4A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 4B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 5A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 5B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 6A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 6B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 7A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 7B
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 8A
Ki Hadi Sugito : Abimanyu Ranjab 8B Tamat
Read more...

Read more...

Ki Anom Suroto : Bimo Suci

>> Monday, July 2, 2012

Bima berguru kepada pendeta Durna. Ia disuruh mencari air yang bisa menyucikan dirinya. Bima lalu ke Ngamarta, memberitahu dan pamitan kepada saudara-saudaranya. Yudisthira diminta oleh ketiga adiknya supaya menghalangi keinginan Bima. Bima tidak dapat dihalangi, lalu pergi berpamitan dan minta petunjuk kepada pendeta Durna.

Bima menghadap pendeta Durna. Pendeta Durna memberitahu, bahwa air suci berada di hutan Tikbrasara. Bima lalu berpamitan kepada raja Doryudanan dan pendeta Durna.

Bima meninggalkan kerajaan Ngastina, masuk ke hutan. Setelah melewati hutan dengan segala gangguannya, perjalanan Bima tiba di gunung Candramuka. Bima mencari air suci di dalam gua dan membongkari batu-batu. Tiba-tiba bertemu dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima diserang. Ke dua raksasa mati dan musnah oleh Bima. Mereka berdua menjelma menjadi dewa Indra dan dewa Bayu. Kemudian terdengar suara, memberi tahu agar Bima kembali ke Ngastina. Di tempat itu tidak ada air suci. Bima segera kembali ke Ngastina.

Bima tiba di Ngastina menemui pendeta Durna yang sedang dihadap oleh para Korawa. Mereka terkejut melihat kedatangan Bima. Semua yang hadir menyambut kedatangan Bima dengan ramah. Pendeta Durna menanyakan hasil kepergian Bima. Bima menjawab bahwa ia tidak menemukan air suci di gunung Candramuka. Ia hanya menemukan dua raksasa dan sekarang telah mati dibunuhnya. Pendeta Durna berkata, bahwa air suci telah berada di pusat dasar laut. Bima percaya dan akan mencarinya. Dengan basa-basi Duryodana memberi nasihat agar Bima berhati-hati. Bima berpamitan kepada pendeta Durna dan Doryudana.

Bima menemui saudara-saudaranya di kerajaan Ngamarta, ia minta pamit pergi mencari air suci.
Yudisthira dan adik-adiknya sangat sedih, lalu memberitahu kepada Prabu Kresna raja Dwarawati. Kresna datang di Ngamarta, memberi nasihat agar para Pandhawa tidak bersedih hati. Dewa akan melindungi Bima. Bima minta diri kepada Kresna dan keluarga Pandhawa. Banyak nasihat Kresna kepada Bima, tetapi Bima teguh pada keinginannya. Para Pandhawa mencoba menghalang-halanginya, tetapi tidak berhasil menahannya.

Bima berjalan menelusuri hutan, kemudian tiba di tepi samodera. Bima mempunyai kesaktian berasal dari “aji sangara.” Dengan berani ia terjun ke dalam samodera. Tiba-tiba seekor naga mencegatnya. Naga membelit Bima, tetapi alhirnya naga mati ditusuk kuku Pancanaka.

Bima tiba di pusat dasar samodera, bertemu dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci dapat menjelaskan asal keturunannya Bima dan menyebut sanak saudaranya. Lagi pula Dewa Ruci tahu maksud kedatangan Bima di pusat dasar samodewa. Dewa Ruci memberi nasihat, orang jangan pergi bila tidak tahu tempat yang akan ditujunya. Jangan makan bila belum tahu rasa makanan yang akan dimakannya. Jangan mengenakan pakaian bila belum tahu nama pakaian yang akan dikenakannya. Barang siapa tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang telah tahu. Bima merasa hina, lalu minta berguru kepada Dewa Ruci.

Bima disuruh masuk ke rongga perut Dewa Ruci. Bima heran mendengar perintah Dewa Ruci. Ia harus masuk melalui jalan mana, bukankah Dewa Ruci lebih kecil dari pada Bima. Dewa Ruci berkata, bahwa dunia seisinya bisa masuk ke rongga perutnya. Bima disuruh masuk lewat lubang telinga kiri. Tibalah Bima di dalam rongga perut Dewa Ruci.

Ia melihat samodera besar lagi luas, tidak bertepi. Ketika ditanya, Bima menjawab, bahwa ia hanya melihat angkasa kosong jauh sekali, tidak mengerti arah utara selatan, timur barat dan atas bawah. Ia kebingungan. Tiba-tiba terang benderang, Bima merasa menghadap Dewa Ruci. ia tahu arah segala penjuru angin.

Dewa Ruci bertanya tentang sesuatu yang dilihat oleh Bima. Bima menjawab, bahwa hanya warna hitam merah kuning dan putih yang dilihatnya. Dewa Ruci memberi wejangan kepada Bima. Setelah menerima wejangan, Bima merasa senang. Ia tidak merasa lapar, sakit dan kantuk. Ia ingin menetap tinggal di rongga perut Dewa Ruci. dewa Ruci melarang, Bima diwejang lagi tentang hakekat hidup manusia. Sempurnalah pengetahuan Bima tentang hidup dan kehidupan.

Bima telah lepas dari rongga perut Dewa Ruci, lalu minta diri kembali menemui saudara-saudaranya di Ngamarta. Yudisthira mengadakan pesta bersama keluarga menyambut kepulangan Bima.

Yasadipura I, 1928: I-V
Sumber : http://wayang.wordpress.com/2010/03/07/banjaran-cerita-pandawa-15-cerita-bima-suci/

Anom Suroto - Bimo Suci 00 (Talu)
Anom Suroto - Bimo Suci 01
Anom Suroto - Bimo Suci 02
Anom Suroto - Bimo Suci 03
Anom Suroto - Bimo Suci 04
Anom Suroto - Bimo Suci 05
Anom Suroto - Bimo Suci 06
Anom Suroto - Bimo Suci 07
Anom Suroto - Bimo Suci 08
Anom Suroto - Bimo Suci 09
Anom Suroto - Bimo Suci 10
Anom Suroto - Bimo Suci 11
Anom Suroto - Bimo Suci 12
Anom Suroto - Bimo Suci 13
Anom Suroto - Bimo Suci 14
Anom Suroto - Bimo Suci 15
Anom Suroto - Bimo Suci 16 (Tamat)
Read more...

Read more...

Ki Nartosabdho - Banjaran Karno

>> Sunday, July 1, 2012

Dalam pewayangan Jawa, terdapat beberapa perbedaan mengenai kisah hidup Karna dibandingkan dengan versi aslinya. Menurut versi ini, Karna mengetahui jati dirinya bukan dari Kresna, melainkan dari Batara Narada.

Dikisahkan bahwa, meskipun Karna mengabdi pada Duryodana, namun ia berani menculik calon istri pemimpin Korawa tersebut yang bernama Surtikanti putri Salya. Keduanya memang terlibat hubungan asmara. Orang yang bisa menangkap Karna tidak lain adalah Arjuna. Pertarungan keduanya kemudian dilerai oleh Narada dengan menceritakan kisah pembuangan Karna sewaktu bayi dulu.

Karna dan Arjuna kemudian bersama-sama menumpas pemberontakan Kalakarna raja Awangga, seorang bawahan Duryodana. Atas jasanya itu, Duryodana merelakan Surtikanti menjadi istri Karna, bahkan Karna pun diangkat sebagai raja Awangga menggantikan Kalakarna. Dari perkawinan itu lahir dua orang putra bernama Warsasena dan Warsakusuma. Adapun versi Mahabharata menyebut nama putra Karna adalah Wresasena, sedangkan nama istrinya tidak diketahui.

Perbedaan selanjutnya ialah pusaka Konta yang diperoleh Karna bukan anugerah Batara Indra, melainkan dari Batara Guru. Menurut versi ini Senjata Konta disebut dengan nama Kuntawijayadanu, sebenarnya akan diberikan kepada Arjuna yang saat itu sedang bertapa mencari pusaka untuk memotong tali pusar keponakannya, yaitu Gatotkaca putra Bimasena. Dengan bantuan Batara Surya, Karna berhasil mengelabui Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menemui Arjuna.

Surya yang menciptakan suasana remang-remang membuat Narada mengira Karna adalah Arjuna. Ia pun memberikan Kuntawijaya kepadanya. Setelah menyadari kekeliruannya, Narada pun pergi dan menemukan Arjuna yang asli. Arjuna berusaha merebut Kuntawijaya dari tangan Karna. Setelah melewati pertarungan, Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka itu saja.

Meskipun demikian, sarung tersebut terbuat dari kayu Mastaba yang bisa digunakan untuk memotong tali pusar Gatotkaca. Anehnya, sarung Kunta kemudian masuk ke dalam perut Gatotkaca menambah kekuatan bayi tersebut. Kelak, Gatotkaca tewas di tangan Karna. Kuntawijaya musnah karena masuk ke dalam perut Gatotkaca, sebagai pertanda bersatunya kembali pusaka dengan sarung pembungkusnya.

Menurut versi Jawa, pusaka pemberian Indra bukan bernama Konta, melainkan bernama Badaltulak. Sama dengan versi aslinya, pusaka ini diperoleh Karna setelah pakaian perangnya diminta oleh Indra.

Karna versi Jawa sudah mengetahui bahwa ia adalah kakak tiri para Pandawa sejak awal, yaitu menjelang perkawinannya dengan Surtikanti. Jadi, kedatangan Kresna menemuinya sewaktu menjadi duta ke Hastinapura bukan untuk membuka jati dirinya, namun hanya untuk memintanya agar bergabung dengan Pandawa.

Karna menolak dengan alasan sebagai seorang kesatria, ia harus menepati janji bahwa ia akan selalu setia kepada Duryodana. Kresna terus mendesak bahwa dharma seorang kesatria yang lebih utama adalah menumpas angkara murka. Dengan membela Duryodana, berarti Karna membela angkara murka.
Karena terus didesak, Karna terpaksa membuka rahasia bahwa ia tetap membela Korawa supaya bisa menghasut Duryodana agar berani berperang melawan Pandawa. Ia yakin bahwa angkara murka di Hastinapura akan hilang bersama kematian Duryodana, dan yang bisa membunuhnya hanya para Pandawa. Karna yakin bahwa jika perang meletus, dirinya pasti ikut menjadi korban. Namun, ia telah bertekad untuk menyediakan diri sebagai tumbal demi kebahagiaan adik-adiknya, para Pandawa.

Dalam perang tersebut Karna akhirnya tewas di tangan Arjuna. Namun versi Jawa tidak berakhir begitu saja. Keris pusaka Karna yang bernama Kaladite tiba-tiba melesat ke arah leher Arjuna. Arjuna pun menangkisnya menggunakan keris Kalanadah, peninggalan Gatotkaca. Kedua pusaka itu pun musnah bersama.

Surtikanti datang ke Kurusetra bersama Adirata. Melihat suaminya gugur, Surtikanti pun bunuh diri di hadapan Arjuna. Adirata sedih dan berteriak menantang Arjuna. Bimasena muncul menghardik ayah angkat Karna tersebut sehingga lari ketakutan. Namun malangnya, Adirata terjatuh dan meninggal seketika.

http://id.wikipedia.org/wiki/Adipati_Karna

Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 01
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 02
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 03
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 04
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 05
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 06
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 07
Ki Nartosabdho - Banjaran Karno 08
Read more...

Read more...

Campursari Gunung Kidul - Sunyahni

>> Friday, May 4, 2012

Campursari Gunung Kidul - Album Pilihan I Sunyahni
1. Bocah Gunung
2. Cengkir Wungu
3. Lingsir Wengi
4. Mung Sliramu
5. Panjerino
6. Potretmu
7. Resepsi
8. Saputanganmu
9. Tak Eling Eling
10. Wuyung
Read more...

Read more...

Dagelan Mataram : Basiyo Midang

>> Wednesday, February 29, 2012


Dagelan Mataram : Basiyo Midang
Monggo dipun unduh...

Read more...

Read more...

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP